Sekilas Tentang Fkppa

Sekilas FKPPA

Pecinta Alam di Indonesia telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya organisasi maupun komunitas pecinta alam yang ada di Indonesia. Pada lembaga Universitas kita mengenal Mahasiswa Pecinta Alam atau sering disingkat “Mapala”, sedangkan ditingkatan SMA kita juga mengenal “Sispala” yakni Siswa Pecinta Alam, kemudian di luar itu tak sedikit pula kelompok, komunitas, freelance atau Organisasi Pecinta Alam (OPA) yang berasal dari pemuda dan masyarakat luas, yang menjadi bagian utuh dari Pecinta Alam Indonesia.

Banyaknya organisasi pecinta alam tersebut juga berbanding lurus dengan luasnya cakupan bidang-bidang keahlian dan kegiatan di alam bebas yang bisa dimasuki, sebagai contohnya antara lain: rock climbing, prussiking, rappeling, togel, cadroul, ganthole, survival, navigasi, peta kompas, Orad, caving, diving, PPGD, observasi dan konservasi, SAR, fotografi alam, botani dan zoologi praktis, mountaineering dan masih banyak lagi yang lainnya.
Karena beragamnya bidang keahlian dan kegiatan para pecinta alam, maka dianggap perlu untuk membuat konsep dan merumuskan standarisasi materi, tehnik-tehnik, kode etik berkegiatan di alam bebas yang bisa dituangkan dalam forum bersama. Forum bersama tersebut juga sebagai wahana berbagi pengalaman antar sesama pecinta alam. Konsep tersebut sudah berjalan ditingkatan nasional, untuk menyatukan itu semua di tingkat nasional telah terselenggara Forum Gladian Nasional (Gladnas) Pecinta Alam se-Indonesia.

Antisipasi dari beberapa perbedaan tersebut, tertuang dan ditampung di dalam Forum Gladian Nasional Pecinta Alam III di Pantai Carita Jawa Barat 1972. Karena waktu yang tersedia didalam forum Gladnas III itu tidak cukup untuk menjawab, maka dalam Forum Gladian Nasional Pecinta Alam IV, pukul 01.00 WITA tanggal 29 Januari 1974 di pulau Kayangan Palu Ujung Pandang, maka lahirlah Kode Etik Pecinta Alam Indonesia. Kemudian pada tanggal 7 - 17 Agustus 2009 Gladnas XIII di selenggarakan di Nusa Tenggara Barat. Ditingkat Jawa Timur kita juga mengenal FKPA (Forum Komunikasi Pecinta Alam). FKPA XIII juga telah rampung diselenggarakan pada 24-26 Juli 2009 di Universitas Trunojoyo Madura dan rangkaian kegiatannya masih berjalan hingga sekarang.
Kita sebagai insan pecinta alam yang secara faktual berada di Lamongan, harus senantiasa memupuk persaudaraan sebagaimana amanat Kode Etik Pecinta Alam Indonesia yang menjadi rujukan kita bersama. Pecinta Alam di Lamongan telah banyak bermunculan, secara kuantitas sudah dirasa cukup untuk bisa memberikan peranan lebih terhadap kelestarian lingkungan hidup. Secara kualitas dibutuhkan forum yang bisa memberikan transformasi nilai dan pengetahuan yang biasanya diwujudkan dalam bentuk Latgab (latihan gabungan).

Forum Komunikasi Pecinta Alam Lamongan (FKPALA) yang pernah dirumuskan oleh beberapa organisasi pecinta alam di Lamongan ternyata belum sepenuhnya memberikan andil yang berarti dalam membangun komunikasi yang baik ditingkatan organisasi pecinta alam.
Jauh sebelum itu, di Lamongan sejak tahun 2004 telah dirintis untuk pertama kalinya FKPPA (Forum Kreasi Pemuda Pecinta Alam). FKPPA merupakan forum yang di awal perintisannya adalah milik OPA se-Lamongan dengan prinsip dasar “dari kita, oleh kita dan untuk semua pecinta alam.” Namun karena keterbatasan koordinasi, maka dari FKPPA yang pertama hingga FKPPA-III tahun 2009 yang lalu masih diselenggarakan oleh Serikat Pemuda Pencinta Alam Lamongan (Sempal).

Sehubungan dengan hasil FKPPA keempat yang akan dikembalikan ke Ranah Lamongan, untuk Laporannya bisa dilihat diunduh.
sebagai referensi, ada juga lampiran untuk proposal mini kegiatan FKPPA III yang lalu. bisa  diunduh

Sejarah Desa Sambilan, Mantup

          Diceritakan pada zaman penyebaran Agama Islam di Wilayah Kecamatan Mantup, ada seorang kyai yang bernama Pangeran Sedomargi. Beliau masih merupakan kerabat keturunan dari Kerajaan Majapahit. Pangeran Sedomargi lebih dikenal sebagai Mbah Wali, yang merupakan seorang tokoh penyebar Agama Islam yang sangat dihormati dan disegani oleh masyarakat dan mempunyai santri yang cukup banyak.
          Diantara murid Mbah Wali (Pangeran Mbah Sedomargi) terdapat seorang janda yang bernama Golia atau yang lebih sering dipanggil sebagai Mbah Golia. Meskipun seorang wanita, Mbah Golia pergi meninggalkan pondokan dan mendirikan sendiri sebuah Santren (Pondokan tempat mengaji dan menimba ilmu-ilmu agama) di daerah Mantup bagian selatan. Lama kelamaan pesantren tersebut mempunyai banyak murid/santri yang akhirnya menetap dan berkeluarga di sekitar Santren sehingga terbentuk suatu Dukuhan/Desa yang belum bernama.
          Dikisahkan juga, Mbah Golia mempunyai seorang putri yang amat sangat cantik. Kecantikannya ibarat berlian yang bertahtahkan bintang-bintang, bak seorang putri Kerajaan Khayangan. Putri tersebut bernama Lumut Ayu. Selain cantik parasnya, Lumut Ayu juga cantik hatinya, baik budi, sopan santun, ramah dan suka menolong terhadap siapa saja, yang membuat siapapun pasti terpesona dan jatuh hati kepadanya. Sehingga tak heran banyak sekali para pemuda dan pangeran yang jatuh hati dan ingin meminangnya menjadi istri.

         Selang waktu berlalu. Lumut Ayu beranjak dewasa dan datanglah seorang pemuda yang meminangnya. Betapa bahagianya hati Lumut Ayu yang akan menikah dengan pemuda tampan sang pujaan hati. Hari dan tanggal pernikahan sudah ditetapkan, semua hal yang dibutuhkan telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya untuk menghadapi hari yang bahagia tersebut. Masyarakat desa juga bergotong royong turut membantu semua kebutuhan, karena hal ini merupakan pernikahan dari Lumut Ayu, wanita tercantik di desa dan putri dari seorang yang sangat disegani, sehingga semua orang sangat ingin terlibat langsung dengan perhelatan tersebut. Tetapi apalah daya, tangan Tuhan berkehendak lain. Tak ada yang bisa menentukan nasib dan takdir atas apa yang telah Tuhan tentukan. Sang pemuda pujaan hati meninggal sehari sebelum hari pernikahan. Tak diketahui apa penyebab kematian sang pemuda. Dan Lumut Ayu pun hanya bisa menangis meratapi nasibnya.
          Setahun pun berlalu, seiring berjalannya waktu sang Lumut Ayu telah bisa mengobati rasa sakit hatinya yang teramat sangat, datanglah seorang pemuda lain yang datang untuk meminangnya. Tetapi Tuhan masih juga berkehendak sama. Sang pemuda juga meninggal dunia sebelum hari pernikahannya. Hati Lumut Ayu pun hancur kembali. Mbah Golia selalu mendampingi putrinya agar tetap tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan dari Tuhan.
       Begitupun seterusnya, setiap ada seorang pemuda yang meminangnya untuk dijadikan istri selalu berakhir dengan kematian sang pemuda sehari sebelum hari pernikahannya. Hingga sampai pada pemuda yang kesembilan yang ingin meminangnya pun terjadi hal yang sama. Oleh karena itu, penduduk menamakan daerah tersebut dengan SAMBILAN, yang berasal dari sembilan pemuda yang telah melamar Lumut Ayu dan gagal.
         Lumut Ayu begitu terpukul danhampir gila. Kesabaran yang selama ini selalu terpatri ternyata luluh juga. Setiap hari dia hanya duduk merenung di bawah pohon di sendang sambilan sambil menjahit bajunya dengan kain kecil-kecil (menambal). Hingga sampai pada tambalan yang ke seribu, sang Lumut Ayu yang sudah seperti orang gila memakainya dan berjalan dengan linglung ke dekat pohon yang selama ini dia pakai untuk menenangkan diri. Dan di bawah pohon dekat sendang tersebut akhirnya Lumut Ayu mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri dengan memakai baju Tambalan, yang karena banyaknya hingga disebut baju tambal sewu.
         Mbah Golia sangat sedih dan terpukul melihat keadaan putri tunggalnya yang sangat cantik. Mbah Golia merasa hancur, beliau merasa sebagai seorang yang sangat disegani, putrinya pun sangat cantik dan baik hati, tetapi mengapa selalu gagal dan gagal lagi menikah hingga harus mengakhiri hidupnya dengan tragis.
Sambil memluk jenazah putrinya, dengan perasaan sedih, marah dan malu, Mbah Golia bersumpah dan mengutuk penduduk desa bahwa “warga desa asli Sambilan yang berparas cantik tidak akan bertahan hidup lebih lama dan akan bernasib tragis”.
        Dan Lumut Ayu pun dimakamkan di dekat pohon di Sendang Sambilan yang saat ini lebih dikenal sebagai Sendang Mbah Golia. Dan dibuatkanlah sebuah candi (Candi Golia) yang dipakai untuk melindungi makam Lumut Ayu dan Mbah Golia yang akhirnya wafat juga dan dimakamkan di dekat makam putrinya. Akhirnya menurut cerita tersebut, sampai saat ini tak ada gadis cantik asli sambilan yang bertahan hidup lebih lama. Jika tidak meninggal waktu kecil, pasti saat remaja juga meninggal dengan mengenaskan. Dan kepercayaan ini masih melekat erat dalam masyarakat Desa Sambilan.
          Sementara baju Tambal Sewu (Klambi Ontokusumo) yang dipakai Lumut Ayu bunuh diri, sampai saat ini masih disimpan di Candi dikeramatkan oleh penduduk sekitar dan dijadikan pusaka Desa Sambilan. Dan setiap hari raya Idul Adha sesaat setelah sholat Ied, baju tambal sewu tersebut selalu dikeluarkan untuk dicuci oleh sesepuh desa atau juru kunci Candi Golia.

laporan perjalanan gunung argopuro

Hari pertama
Sabtu, 15-12-2012
16.00-17.43 (1 jam 43 menit)
Basecamp Sempal - Terminal Bungurasih
Perjalanan dimulai dari basecamp di depan kantor kecamatan Sukodadi beranggotakan Gudel, Gorila, Ganyong, Lentho. Berjalan sampai pertigaan depan kampus Unisda untuk mendapatkan bis jurusan Bungurasih.

18.50-22.50 (4 jam)
Terminal Bungurasih – Alun-alun Besuki
Setiba di Bungurasih kami langsung mencari makanan (hati-hati makanannya pedas banget, tapi pedas merica yang menyiksa) sambil menawar harga transportasi jurusan situbondo. Pada malam hari terutama musim liburan sangat sulit mendapatkan transportasi itupun dengan harga yang mahal. Tarif yang kami dapat Rp. 50rb/orang (tarif yang ditawarkan mula-mula Rp 120rb dan berdasarkan tawar-menawar turun Rp. 100rb, 70rb, 60rb) dengan naik bis patas jurusan Denpasar tapi kami diperbolehkan turun di Besuki. Akhirnya kami mendapat bis jurusan denpasar (duduk di depan dekat sopir) dengan harga relatif murah walaupun awalnya harus menunggu proses tawar-menawar yang sengit. Dalam perjalanan kami istirahat karena lamanya perjalanan sampai 4 jam dan itupun melelahkan.
Sesampainya di alun-alun Besuki kami langsung menuju kantor polsek yang berada tidak seberapa jauh. Setelah ngobrol dan kami pun diterima sampai ditempatkan di musholah, kami bermalam tanpa mendirikan tenda.
Bis malam harus menungu jam 19.00 WIB dan 02.00 pagi dengan tarif ekonomi 40rb/orang.

Hari kedua
Minggu, 16-12-2012
06.00-06.58 (1 jam)
Kantor Polsek Besuki – Pos Perijinan Baderan
Pagi ini dimulai dengan mengambil beberapa foto sekitar lokasi yang terdapat beberapa bangunan tua, tak berapa lama prepare dan kami sudah dicarter kan len(mpu) menuju perijinan Baderan. Setibanya di Baderan kami mencari makanan di warung sebelah parkir mobil. Setelah memesan porsi biasa (padahal porsi sopir truk tapi dengan harga sangat terjangkau), kami bersiap-siap sarapan dan menuju kantor perijinan (cek perijinan, minta no. kontak, tanya-tanya kondisi serta jalur). Disini kami mendapat info tanggal 18 ada personel BKSDA gabungan Surabaya, Malang, Mojokerto dan Situbondo sejumlah 30 orang survey jalur dari baderan ke bremi.
Kantor perijinan baderan bukan di depan warung tempat pemberhentian mpu tapi agak ke atas, tepatnya di atas SDN Baderan.

08.10-15.15 (7 jam 10 menit)
Pos Perijinan Baderan – Mata Air I
Perjalanan dimulai dengan melewati jalur kanan, menyisir pinggiran desa, melewati sungai kecil dan sampai jalan makadam. Ternyata jalan biasanya menuju kekanan dari perijinan, masuk kampung dengan jalan rabat beton lalu jalan makadam, terdapat beberapa tandon air dan pancuran yang bisa untuk mengisi bekal air atau mandi, jalan berliku dan menanjak dengan view bagus. Kami berjalan mengikuti jalan makadam (punggung gunung) lalu jalan setapak (kiri kanan berupa jurang) dengan trek yang menanjak walaupun ada sedikit bonus, istirahat ½ jam di pohon besar karena hujan lebat, melanjutkan hingga menemukan tanda HM42 dipohon sebelah kanan jalan, keatas lagi ada sebuah tempat agak longgar, cukup untuk mendirikan 2 tenda.
Kami mendirikan tenda dan bermalam karena sudah mau gelap dan kondisi fisik juga sudah lelah (masih belum begitu mengenal jalur). Sebenarnya yang kami tuju adalah pos Jambangan yang berada 1 jam dari lokasi mata air I. Kami mengambil air untuk bekal dan memasak lalu langsung istirahat di dalam tenda karena mendengar suara kera yang semakin mendekat.
Di pos mata air I terdapat mata air berlokasi sebelah kiri jalan menuju ke bawah berupa sungai kecil mengalir (terdapat tanda).
Di pos ini terdapat kawanan kera (hati-hati dengan barang bawaan, lebih baik dimasukkan ke dalam tenda dengan pengawasan), sebelah kanan lokasi adalah jurang dengan banyak air terjun di sisi tebing satunya.

Hari ketiga
Senin, 17-12-2012
08.05-11.25 (3 jam 20 menit)
Pos Mata Air I – Sabana I
Pagi-pagi kami sudah memasak dan menikmati pemandangan lalu kami berfoto-foto ria, setelah prepare dan membongkar tenda kami berangkat dari pos mata air I, trek menanjak dengan vegetasi hutan hujan, banyak pohon tumbang dan kayu-kayu kering karena sisa-sisa kebakaran.
SM98 berupa trek landai sampai HM53, SM 92-93 menanjak, lalu HM7 menurun dengan 150 m jauhnya berikutnya jalur dengan kanan kiri berupa jurang, 4 kali tanjakan hutan pinus, HM 11 ada edelweis (jarak 1,5 jam dari pos mata air I), jalur berikutnya menanjak 450 sejauh 400m (disini bisa melihat kawanan kera dipohon pinus). Kami ternyata melalui sisi kiri dari jalur asli yang sudah tidak tampak karena kebakaran dan longsor.
Setelah jalur menyisir jurang, kami melalui jalur hutan hujan yang lebat pada HM71, setelah melewati pinggiran punggungan dengan vegetasi ilalang kami tiba di sabana I, di sabana I ini terdapat bunga berwarna merah yang bagus tumbuh di jalan setapak membelah sabana. Juga terdapat bulu merak. Disini juga bisa melihat ayam liar jika beruntung.
Kami istirahat di bawah pohon tunggal karena mulai gerimis, setelah memakai ponco kami melanjutkan perjalanan.
Untuk mengenal jalur bisa dengan mengikuti tanda berupa kayu atau plat bertulis SM, HM, (walaupun ada beberapa yang hilang atau roboh) serta tanda arah panah.
Hewan yang banyak ditemukan adalah kera hitam ekor panjang, beberapa spesies burung serta ulat gagak.

11.25-13.15 (1 jam 50 menit)
Sabana I – Kalimati
Setelah sabana I, memasuki hutan kembali dengan jalan menurun sampai menemui sabana berikutnya. Hal ini sampai sabana kedua (sabana besar/HM62, 1½ jam dari sabana I) dan ketiga (sabana kecil ditengah hutan, 5 menit dari sabana II) lalu tiba di kalimati (15 menit dari sabana kecil).

13.15-14.00 (45 menit)
Kalimati – Sungai Kolbu (Pos Sikasur)
Setelah perjalanan 2 kali sabana dari kalimati kami menemukan lapangan luas dengan beberapa bekas bangunan yang tinggal puing-puingnya, di sekitar terdapat beberapa ayam alas dan jalan setapak agak memutar yang berakhir di Sungai Kolbu. Disini kami membersihkan diri dengan airnya yang mengalir jernih lalu meneruskan ke pos Sikasur yang berada diatas Sungai Kolbu (berjalan menanjak sekitar 2 menit). Cuacanya agak gerimis. Kami mendirikan tenda di dalam pos lalu memasak, setelah itu menunggu sampai gelap sambil membuat minuman hangat.
Pada sore hari kami mulai berada di dalam tenda. Ada yang menarik yaitu kami menemukan seekor tikus kecil yang lincah dan begitu bersih kondisi tubuhnya, mendekat ke depan tenda dan memakan sisa nasi diatas tempat sampah yang kami bawa. Susana di sikasur begitu damai dengan diiringi suara burung merak yang bersahutan serta pemandangan sekitar yang luas berlapis kabut yang lembut. Sangat cocok untuk merefresh pikiran.
Di Sungai Kolbu terdapat selada air yang melimpah, bisa dimasak sebagai sayur.
Hewan yang bisa ditemukan adalah tikus kecil, ayam alas dan merak.
Di Sikasur ada bekas lapangan terbang Jepang dan bangunan seperti pos penjagaan serta batu yang tertata rapi di sisi atas lapangan setelah perbukitan sebelah kanan.

Hari keempat
Selasa,
18-12-2012
08.00-11.36 (3 jam 36 menit)
Sikasur - Sicentor
Pagi hari dihabiskan dengan masak dan jalan-jalan di lapangan sambil mengambil foto. Setelah puas lalu prepare buat berangkat ke pos berikutnya yaitu Sicentor.
Dari pos Sikasur mengambil jalur di sebelah kanan yang mengitari punggungan bukit, lalu terus berjalan melewati ladang pakis haji (sedang banyak tumbuh pakis haji). Jalur yang ditempuh landai lalu agak terjal. Teman kami lentho disini pertama kalinya terkena tumbuhan jelatang karena kurang hati-hati.
Trek berikutnya agak menanjak melewati 3 sabana besar lalu mengikuti tepian tebing. Karena sisa longsor dan kebakaran maka perjalanan menjadi terasa begitu berat dan penuh rintangan karena harus melalui jalan sempit dan melewati pohon besar yang banyak tumbang di tengah jalur.
Setelah jalur tepian kami tiba di penghujung jalan yang akhirnya harus turun curam sampai di sebuah sungai di pinggir Sicentor. Dari atas bukit itu sudah bisa melihat pos Sicentor.
Di Sicentor kami menaruh barang bawaan lalu mandi bersama, mengambil selada air untuk masak lalu membongkar logistik sambil mengeringkan pakaian karena basah. Kami tidak mendirikan tenda karena rencananya perjalanan dilanjutkan dan bermalam di Rawa Embik. Rencana tersebut karena menurut perhitungan kami akan lebih dekat dengan puncak dan mempunyai waktu lebih banyak di puncak nanti.
Hati-hati dijalur terdapat tanaman jelatang atau lebih dikenal dengan tanaman “jancukan” karena jika terkena bisa menimbulkan rasa sakit yang sangat, setara dengan sengatan lebah.
Di sungai Sicentor juga bisa ditemui selada air.

13.15-15.05
Sicentor – Rawa Embik
Setelah dirasa cukup, kami meneruskan perjalanan. Melalui jalur diatas Sicentor dengan jalur landai lalu agak menanjak sampai padang luas, diakhir padang itu ada batu tertata, lalu melewati hutan yang habis terbakar. Disini kami masih menemui patok penanda jalur tapi hanya sampai pada kalimati (jarak 1 jam dari Sicentor). Jalur berubah agak menanjak berulang-ulang sampai pada kalimati kedua dan setelah itu jalan menurun bukit yang berujung di Rawa Embik. Kami lalu mendirikan tenda dan membuat “cem-ceman” (makanan kecil) dari selada air yang kami bawa dari sungai Sicentor. Karena lelah, kamipun istirahat, menyiapan fisik untuk esok harinya. Malam itu cuaca di rawa embik sangat cerah dengan diterangi cahaya rembulan.

Hari kelima
Rabu, 19-12-2012
08.00-10.00
Rawa Embik – simpang tiga.
Pagi hari kami mulai dengan masak dan kegiatan lain seperti MCK dan berfoto-foto, lalu bongkar tenda dan siap-siap berangkat.
Jalur yang diambil adalah sebelah kiri (bukan menyeberangi sungai tapi arah lurus dari jalan turun ke Rawa Embik). Disekitar terdapat susunan batu besar. Jalur kemudian agak menanjak sampai bertemu kali dan diteruskan sampai ke sebuah padang sabana yang banyak terdapat edelweis. Dari sini terus 5 menit sampai pada persimpangan tiga, lurus ke Puncak Arca, kekanan menuju Puncak Argopuro, kekiri menuju Puncak Rengganis. Disini kami mengamati sebentar lalu menemukan pohon untuk menaruh karier. Membawa beberapa logistik dan bendera di tas ransel lalu mengambil arah kekanan menuju Puncak Argopuro.
hewan yang bisa dijumpai adalah kijang dan burung merak serta burung elang.

10.00-10.30
Simpang tiga - Puncak Argopuro
Jalan dari simpang tiga menuju puncak sangat terjal, dan kami ditengah perjalanan menjumpai kawanan kera. Setelah mengikuti tanda jejak (string line) kami tiba dipuncak, istirahat sebentar, mengambil foto, makan snack dan meneruskan perjalanan. Di Puncak Argopuro terdapat beberapa situs batu berundak yang tertata. Setelah 30 menit di Puncak Argopuro, kami mengambil arah lanjutan melewati jalur setapak dimana sisi kanan dan kiri adalah jurang dengan kontur terjal berbatu dan tanahnya agak mengkhawatirkan, melewati tepian beberapa bebatuan besar sambil mendaki bebatuan tersebut.

11.10-11.20
Puncak Argopuro – Puncak Arca
Sebenarnya Puncak Arca bisa langsung dicapai dari persimpangan tapi akan lebih dekat jika melewati Puncak Argopuro dulu. Setelah melalui jalan kecil dengan banyak batu besar dengan jalan agak mendaki kami sampai disebuah puing batu dimana disitu terdapat arca yang kondisinya sudah tidak utuh (tinggal tangan sebelah, bagian kaki dan tubuh). Di depannya ada bangunan semacam undakan untuk lewat bertingkat tiga dengan jalur gapura kecil. Jika ditelisik akan menuju jalur turun di arah Jember tapi juga bisa kearah Puncak Rengganis dengan melalui jalur 3 puncak. Kami mememutuskan turun lewat jalu satunya (arah turun ) yang melewati sabana menuju persimpangan kembali. Di jalur dari Puncak Arca ini jika terlena akan menuju lurus ke jalur 3 puncak, namun dari bawah pundak terakhir akan terlihat jalur turun di sisi kiri bawah menuju sabana sebelah kiri atau kembali ke simpang tiga sebagai patokan (jangan kearah sabana lembah yang mengarah ke kanan).

11.50-12.20
Simpang tiga – Puncak Rengganis
Setelah sampai di persimpangan, kami meneruskan ke Puncak Rengganis yang berada di sisi kanan jalur. Tidak ada patokan khusus, hanya mengikuti jalur pendakian yaitu terus naik sampai di lapangan berbatu, di sisi kiri akan didapati situs mirip sebuah istana yang tinggal puing dengan dua ruangan besar dan dipenuhi pohon serta semak. Ada juga kolam kering dan tugu RIP. Jika dilanjutkan mengikuti jalur akan bertemu dengan sisi bawah puncak dimana terdapat banyak belerang dengan bau yang menyengat. Dari sini ada 2 jalur, kiri dan kanan yang sama-sama menuju ke Makam Ratu Rengganis. Nah, dari makam inilah bisa dilihat lagi jalur menuju Puncak Arca di arah bawah dan dengan jalur melingkari punggungan. Puas mengabadikan momen, kamipun turun karena khawatir akan efek bau belerang yang membuat kepala agak berat.

12.30-12.45
Puncak Rengganis – Simpang tiga
Setelah turun dari puncak, kami mengambil karier yang kami ikat di pohon lalu memasak.

13.30-14.30
Simpang tiga – Rawa Embik
Setelah prepare kami memutuskan turun melalui Rawa Embik, akan tetapi kami hanya lewat karena rencananya perjalanan kami lanjutkan langsung menuju Sicentor. Hal ini mengingat kami ingin menghemat tenaga untuk besok juga mensiasati agar tidak terlalu malam tiba di Sicentor karena ada tempat bernaung. Di Rawa Embik hanya istirahat 5 menit untuk minum dan melepas lelah.

14.35-15.50
Rawa Embik – Sicentor
Karena fisik sudah kelelahan (dalam perjalanan disambut hujan rintik-rintik) kami akhirnya membuka tenda di dalam shelter Sicentor. Ishoma lalu menunggu setelah isyak baru istirahat. Pada malam harinya hujan lebat sampai atap shelterpun melayang (terbuka) karena angin kencang.

Hari keenam
Kamis, 20-12-2012
08.15-10.07
Sicentor – Padasan kali (Kali Putih)
Saat pagi terasa sejuk di Sicentor menjadikan kami semangat untuk memulai perjalanan. Setelah masak dan membersihkan diri, kami bersiap berangkat melanjutkan perjalanan. Jalur yang di ambil adalah sebelah belakang shelter Sicentor atau sebelah sisi satunya (berlawanan) dari jalur tiba serta jalur ke puncak. Dari sini melewati jalur tepian menyisir tebing sampai pada jalur yang sudah hilang. Di jalur ini kami kehilangan jejak jalur bahkan sampai terus ke arah lembah, setelah satu jam mencari tanda jejak dan tidak menemukannya, kami bermusyawarah dengan mengirim satu personil ke arah terus ke atas dan satu personil menelusuri jejak asal ke arah tanda jejak terakhir.
Kami menemukan bahwa jalur ternyata masih ada berupa jalan setapak tertutup akar sabut dan terputus karena tertutup pohon besar yang tumbang. Jalur asli menuju ke arah atas punggungan dengan jalur yang sangat menanjak dan setelahnya sedikit landai. Beberapa tikungan menyisir tebing dengan banyak semak belukar maupun tanaman jelatang kami menemukan tanda jejak kembali sampai menuju ke sebuah punggungan yang terdengar gemericik air. Air itu bersumber dari bebatuan dengan mata air kecil di sisi kanan lembah. Tak jauh sesudahnya menuju ke arah bawah akan menemukan Kali Putih. Kali Putih adalah tempat yang bisa untuk istirahat sambil mendirikan tenda dan di sebelahnya terrdapat sungai mengalir jernih di kelilingi tanaman jelatang yang lebat.
Jalur dilanjutkan dengan menyeberangi sungai lalu menyusuri sisi punggungan sampai 6 kali, setelah lembah ketujuh ambil ke bawah maka akan tiba di hutan lumut.
sebelum di hutan lumut, ada beberapa lokasi yang bisa digunakan untuk istirahat berupa lapangan kecil dikelilingi semak ilalang yang tinggi dan ada pepohonan besar, setelahnya akan ditemui sebuah lokasi di tepi punggungan (tepi tebing) dimana disitu sudah ada signal. Disini kami mencari pohon signal itu.

15.05-16.30
Hutan Lumut – Danau Taman Hidup
Saat memasuki Hutan Lumut akan disajikan pohon-pohon besar dan banyak terdapat kumpulan kera yang berkeliaran di atas pohon. Jalur terus turun lewat jalan setapak. Semakin lama semakin lebat dan selanjutnya akan tiba di sebuah sungai yang cukup lebar dimana banyak terdapat ikan. Setelah sungai akan tiba di pertigaan dengan sebuah penunjuk arah ke arah danau yang menuju ke arah kiri. Kami akhirnya melewati jalur dan tiba di Danau Taman Hidup. Kami langsung menuju ke danau dan membersihkan diri, mengambil air, menikmati suasana lalu mendirikan tenda. Tak lama kemudian kami mendapat kan teman karena ada sekelompok pendaki berjumlah 17 orang yang berangkat dari Bremi. Setelah sama-sama mendirikan tenda dan memasak kamipun ngobrol bareng sampai malam. Setelah ngantuk kamipun tertidur.

Hari ketujuh
Kamis, 20-12-2012
08.30-10.50
Danau Taman Hidup – Ladang Damar (Perkebunan Ayer Dingin)
Pagi itu kami sarapan, ngobrol dan saling bersalaman karena masing-masing akan melanjutkan perjalanan. Sedang kami baru akan turun. Setelah siap, kami berjalan ke arah pertigaan tanda ke arah Danau Taman Hidup lalu ambil jalan ke kanan. Terus sampai menuju ladang damar. Waktu itu hujan deras dan kamipun sampai di gubug bawah. Disapa oleh warga karena kami berteduh dari hujan lebat.
setelah terang kami meneruskan perjalanan sampai pada jalan pertigaan. Kami ambil ke arah kanan sampai masuk desa dan meneruskan sampai ke jembatan yang terdapat sungai besar. Setiba diperkampungan kami bertemu sepasang pemuda-pemudi di sebuah SD.

11.50-12.10
desa wisata air terjun – Polsek Krucil
Dari SD kami langsung menuju arah Polsek krucil. Di Polsek kami mandi dan sudah ditunggu oleh mpu. Beberapa saat kemudian kami naik sampai terminal Bremi. Makan lalu ada seorang bapak-bapak yang menawari tumpangan sampai Surabaya (Bungurasih).

17.15-20.00
Terminal Bungurasih – Basecamp Lamongan
Malam itu kami mendapat bus walaupun penuh sesak. Dan akhirnya tiba juga di basecamp dengan selamat.


KONSERVASI ALAM


Konservasi Alam adalah suatu manajemen terhadap alam dan lingkungan secara bijaksana untuk melindungi tanaman dan binatang. Beberapa spesies binatang dan tumbuhan telah punah secara alamiah (misalnya dinosaurus). Namun dewasa ini kegiatan manusia dan pertumbuhan jumlah penduduk menyebabkan peningkatkan bahaya kerusakan alam, sehingga beberapa spesies jumlahnya berkurang secara drastis bahkan spesies tertentu telah punah sekarang. Untuk itulah Konservasi Alam sangat penting bagi manusia.
Sepanjang sejarah alam telah menderita disebabkan oleh manusia dan kegiatannya. Dengan semakin meningkatnya penggunaan senjata yang semakin efisien seperti panah, senapan, pistol para pemburu dapat membunuh beberapa spesies binatang liar dengan sangat mudah. Manusia membuka hutan, mengeringkan rawa, membendung sungai untuk kegiatan perkebunan, pertanian, dan industri. Kegiatan-kegiatan ini secara serius telah merusak habitat tumbuhan dan binatang liar secara luas. Manusia juga telah menggangu proses alamiah habitat spesies yang tersisa. Beberapa habitat tertentu menjadi lebih sempit dan tidak bisa berhubungan dengan ekosistem yang lain. Polusi juga sangat berpengaruh terhadap kehidupan berbagai spesies tumbuhan dan binatang liar.
Berbagai macam spesies tumbuhan dan binatang telah punah jauh sebelum manusia muncul di muka bumi. Namun spesies-spesies lainnya muncul menggantikan berbagai spesies yang punah dan keanekaragaman kehidupan tidak berkurang. Dewasa ini kegiatan manusia telah membinasakan berbagai spesies mahkluk hidup tanpa ada harapan untuk menggantikannya, sehingga keanekaragaman kehidupan menjadi berkurang. Beberapa ratus spesies binatang dan ribuan spesies tanaman liar menghadapi bahaya kepunahan, seperti harimau, orang utan, badak, gorilla, paus biru, singa asia, dll.

PENTINGNYA KONSERVASI ALAM
Jika manusia tidak melakukan konservasi alam maka berbagai spesies tumbuhan dan binatang liar yang terancam punah akan segera menjadi punah. Spesies-spesies lainyapun menjadi terancam kepunahan. Jika hal ini terjadi maka manusia akan mengalami kerugian yang sangat luar biasa karena kepunahan tersebut tidak dapat dimunculkan lagi.
Kehidupan alam bebas sangat penting bagi manusia karena memiliki beberapa faktor manfaat diantaranya:
1. Faktor keindahan
2. Manfaat ekonomi
3. Manfaat ilmiah
4. Manfaat bagi kelangsungan hidup

Faktor Keindahan
Setiap jenis tumbuhan dan binatang adalah berbeda satu sama lainnya dan hal ini memberikan keindahan bagi alam dengan cara yang berbeda-beda. Sebagian besar manusia merasakan bahwa keindahan alam ini dapat memperkaya kehidupan mereka. Hal ini juga dapat menambah kenikmatan alam bagi orang yang melakukan camping, hiking, dan rekreasi alam lainnya. Seorang pendaki gunung akan merasa lebih senang bila melintasi kawasan gunung yang berhutan dan dihuni oleh binatang-binatang liar seperti gn. Gede, gn. Argopuro dan gn. Slamet dibandingkan gunung yang gundul tak berhutan seperti gn.Sumbing, gn.Sundoro, dan gn.Merbabu.

Manfaat Ekonomi
Berbagai spesies tumbuhan dan binatang liar menyediakan produk-produk yang sangat bernilai, seperti kayu, rotan, dan hasil-hasil tanaman lainnya, serat, daging, makanan, kulit dan bulu binatang. Manfaat ekonomi dari kehidupan alam liar memiliki nilai yang sangat penting bagi beberapa negara. Bagi masyarakat di negara-negara industri rekreasi melihat binatang di kebun binatang atau ke alam bebas bisa juga menjadi sumber pendapatan.

Manfaat Ilmu
Mempelajari kehidupan tumbuhan dan satwa liar memberikan kepada kita suatu pengetahuan yang sangat berharga tentang variasi proses kehidupan. Beberapa penelitian tertentu dapat membantu para ilmuwan untuk memahami bagai mana fungsi tubuh manusia dan mengapa manusia bertingkah laku seperti itu. Para ilmuwan juga dapat meningkatkan pengetahuan pengobatan dan menemukan obat-obat baru dengan mempelajari kehidupan alam bebas. Dengan mengamati pengaruh-pengaruh polusi lingkungan terhadap kehidupan liar, para ilmuwan menjadi tahu bagaimana pengaruh polusi bagi manusia.

Manfaat Kehidupan
Setiap spesies memiliki peran dalam membantu menjaga keseimbangan sistem kehidupan di bumi. Sistem-sistem ini harus berfungsi terus menerus jika kehidupan ingin tetap berlangsung. Sehingga hilangnya beberapa spesies dapat mengancam semua kehidupan, termasuk kehidupan manusia. Lebih dari 40 jenis pohon di hutan penyebaran bijinya sangat tergantung pada orangutan. Ular membantu mengendalikan populasi tikus. Burung madu, kupu-kupu dan kumbang membantu penyerbukan bunga.

Pembagian Kerawanan satwa dan tumbuhan liar.
Tumbuhan dan hewan yang menghadapi kepunahan dikelompokkan menjadi tiga macam:
1. Terancam Punah
2. Rawan Punah
3. Beresiko rendah

Spesies yang terancam menghadapi ancaman kepunahan yang sangat serius. Mereka membutuhkan perlindungan secara langsung dari manusia untuk dapat tetap bertahan hidup. Seperti orangutan, harimau, gajah, badak karena habitatnya semakin menyempit perlu dilindungi.

Spesies yang rawan biasanya berlimpah di beberapa area tetapi mereka menghadapi bahaya yang serius. Bahaya ini bisa disebabkan oleh perubahan lingkungan yang tidak ramah atau perburuhan yang terus menerus. Seperti rusa dan babi hutan jumlahnya cukup banyak di beberapa wilayah namun bila diburu terus menerus dapat terancam punah.

Spesies beresiko rendah dikenal juga dengan sebutan spesies yang jarang, biasanya hidup di wilayah yang dilindungi namun jumlahnya tidak berkurang. Misalnya pohon cemara gunung atau edelweis yang hanya tumbuh di puncak-puncak gunung.

Metode Konservasi Alam
Metode yang digunakan untuk melindungi Alam tergantung pada sumber-sumber ancaman terhadap spesies-spesies tersebut. Hal yang paling umum biasanya dengan menjamin tersedianya makanan, air, dan tempat tinggal yang memadai. Metode ini disebut manajemen habitat, mencakup juga konservasi tanah, pengelolaan hutan dan air yang baik.

Beberapa spesies terancam karena manusia telah merusak habitatnya. Sebagai contoh manusia telah mengeringkan rawa-rawa dan merubahnya menjadi pemukiman atau keperluan lainnya. Habitat rawa yang tersisa menjadi berkurang karena faktor-faktor kegiatan manusia, diantaranya mengalihkan aliran air yang seharusnya menuju rawa, penurunan tinggi air rawa, endapan lumpur, racun bahan kimia dan terisolasinya rawa yang satu dengan rawa yang lain. Perladangan yang buruk juga merusak tanah, atau pelebaran kota dan industri dapat meratakan habitat berbagai spesies. Polusi dapat meracuni udara, air, tanaman dan binatang. Untuk menyelamatkan habitat satwa dan tumbuhan manusia harus mengontrol polusi dan mengatur wilayah yang digunakan bagi kehidupan satwa dan tumbuhan untuk tetap hidup.

Binatang yang terancam karena adanya perburuan yang terlalu sering dapat dilindungi dengan undang-undang yang melarang atau mengatur penangkapannya. Hukum ini juga dapat digunakan untuk mengatur seberapa banyak spesies tertentu yang dapat diburu atau dibunuh. Hukum juga dapat melindungi tanaman-tanaman dari para pengumpul. Jika suatu habitat tertentu membutuhkan perlindungan maka wilayah tersebut dapat dijadikan taman nasional atau cagar alam. Dalam beberapa kasus binatang predator yang membunuh binatang yang terancam punah harus dikontrol sampai jumlahnya binatang yang terancam punah bertambah banyak.

Dilain pihak suatu spesies bisa berkembang menjadi sangat banyak. Jika hal ini terjadi maka dapat mengancam kehidupan spesies itu sendiri atau spesies lainnya dengan memakan terlalu banyak persediaan makanan. Masalah ini bisa terjadi dengan rusa dan kuda nil di taman nasional. Untuk itu jumlahnya harus dikurangi dengan dibunuh atau dengan mengembalikan musuh alaminya yang membuat mereka menjadi jarang.

Jika suatu spesies tidak dapat bertahan lama di lingkungan alaminya, maka binatang tersebut dapat dibesarkan di dalam penangkaran dan kemudian dilepaskan di hutan yang dilindungi. Begitu juga dengan satwa yang sukar berkembang biak dapat dikawinkan di dalam penangkaran.

Suatu spesies yang terancam oleh penyakit dapat dibantu dengan mengatur kebersihan habitatnya. Tumbuhan langka dapat dirawat di kebun tanaman atau biji-bijinya dapat disimpan untuk ditanam di masa yang akan datang.

Kunci keberhasilan dari konservasi alam tergantung pada pengetahuan akan ekologi dari suatu spesies dan kekuatan yang bekerja pada habitatnya. Dengan kata lain diperlukan suatu pemahaman tentang cara hidup suatu spesies dan hubungannya dengan segala hal yang ada di dalam lingkungannya.

daftar hari besar


Bulan Januari
01 Januari – Tahun Baru Masehi
01 Januari – Hari Perdamaian Dunia
05 Januari – HUT Korps Wanita Angkatan Laut
10 Januari – Hari Tritura
10 Januari – Hari Lingkungan Hidup Indonesia
15 Januari – Hari Peristiwa Laut atau Samudera
25 Januari – Hari Gizi
25 Januari – Hari Kusta Internasional

Bulan Februari
02 Februari – Hari Lahan Basah Sedunia (konvensi Ramsar)
09 Februari – Hari Pers Nasional
13 Februari – Hari Farmasi

Bulan Maret
01 Maret – Hari Kehakiman Indonesia
06 Maret – Hari Kostrad
06 Maret – Hari Konvensi CITES (perdagangan satwa liar)
08 Maret – Hari Wanita Internasional
09 Maret - Hari Wanita Indonesia
10 Maret - Hut PARFI
11 Maret - Hari Surat Perintah 11 Maret (Supersemar)
18 Maret - Hari Arsitektur Indonesia
20 Maret - Hari Kehutanan Dunia
22 Maret - Hari Air Internasional
23 Maret - Hari Metereologi Sedunia
24 Maret - Hari Peringatan Bandung Lautan Api
30 Maret - Hari Film Indonesia

Bulan April
01 April – HUT Bank Dunia
06 April – Hari Nelayan Indonesia
07 April – Hari Kesehatan Indonesia
09 April – Hari Penerbangan Nasional
19 April – Hari HANSIP
21 April – Hari Kartini
22 April – Hari Bumi / Earth Day / KTT Bumi
24 April – Hari Angkutan Nasional
27 April – Hari Lembaga Pemasyarakatan Indonesia

Bulan Mei
01 Mei – Hari Buruh Internasional
01 Mei – Hari Peringatan Pernbebasan Irian Barat
02 Mei – Hari Pendidikan Nasional
03 Mei – Hari Surya
05 Mei – Hari Lembaga Sosial Desa
08 Mei – Hari Palang Merah Internasional
11 Mei – Hari POM TNI
17 Mei – Hari Buku Nasional
20 Mei – Hari Kebangkitan Nasional

Bulan Juni
01 Juni – Hari Lahirnya Pancasila
03 Juni – Hari Pasar & Modal Indonesia
05 Juni – Hari Lingkungan Hidup Sedunia
21 Juni – Hari Krida Pertanian
22 Juni – HUT Kota Jakarta
23 Juni – Hari Konvensi Bonn
24 Juni – Hari Bidan Indonesia
29 Juni – Hari keluarga Nasional

Bulan Juli
01 Juli – Hari Bhayangkara
01 Juli – Hari Anak-anak Indonesia
05 Juli – Hari Bank Indonesia
09 Juli – Hari Peluncuran Satelit Palapa
12 Juli – Hari Koperasi Indonesia
22 Juli – Hari Kejaksaan
23 Juli – Hari Anak Nasional

Bulan Agustus
08 Agustus – Hari ASEAN
10 Agustus – Hari Veteran Nasional
14 Agustus – Hari Pramuka
17 Agustus – Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
18 Agustus – Hari Konstitusi Indonesia
19 Agustus – Hari Departemen Luar Negeri
21 Agustus – Hari Maritim Nasional
24 Agustus – HUT TVRI

Bulan September
01 September – Hari POLWAN
04 September – Hari Pelanggan Nasional (mulai 2003)
08 September – Hari Aksara
08 September – Hari Pamong Praja
09 September – Hari Olahraga Nasional
11 September – Hari Radio Republik Indonesia
17 September – Hari Perhubungan Nasional
24 September – Hari Agraria Nasional / Hari Tani
27 September – Hari ParPostel
28 September – Hari Kereta Api
29 September – Hari Sarjana
30 September – Hari Pemberontakan PKI

Bulan Oktober
01 Oktober - Hari Kesaktian Pancasila
05 Oktober – HUT Tentara Nasional Indonesia
09 Oktober – Hari Surat Menyurat Internasional
14 Oktober – Hari Pangan Sedunia
15 Oktober – Hari Hak Asasi Binatang
16 Oktober – Hari Parlemen RI
24 Oktober - HUT PBB
24 Oktober - Hari Dokter Indonesia
27 Oktober - Hari Penerbangan Nasional
28 Oktober - Hari Sumpah Pemuda
30 Oktober - Hari Keuangan

Bulan November
03 November – Hari Kerohanian
10 November – Hari Pahlawan
12 November – Hari Kesehatan Nasional
14 November – Hari BRIMOB
16 November – Hari Konferensi Warisan Dunia
21 November – Hari Pohon
25 November – Hari Guru / HUT PGRI

Bulan Desember
01 Desember – Hari AIDS sedunia
02 Desember – Hari Konvensi Ikan Paus
03 Desember – Hari Penderita Cacat
04 Desember – Hari Artileri
09 Desember – Hari Armada RI
10 Desember – Hari HAM
12 Desember – Hari Transmigrasi
15 Desember – Hari Infantri
15 Desember – Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional
19 Desember – HUT Tentara Nasional Indonesia
20 Desember – Hari Sosial
22 Desember – Hari Ibu
22 Desember – Hari Sosial
22 Desember – Hari Korps Wanita Angkatan Darat
25 Desember – Hari Natal
29 Desember – Hari Keanekaragaman Hayati

BEBERAPA ISTILAH ILMU LINGKUNGAN


Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelang-sungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup.

Pembangunan Berkelanjutan yang Berwa-wasan Lingkungan Hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.

Ekosistem adalah tatanan unsure lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuk menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.

Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup adalah rangkaian untuk memelihara kelang-sungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.

Daya Dukung Lingkungan Hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendu-kung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Pelestarian Daya Dukung Lingkungan Hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain.

Daya Tampung Lingkungan Hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya.

Pelestarian Daya Tampung Lingkungan Hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya.

Sumber Daya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya manusia, sumber daya alam, baik hayati maupun non hayati, dan sumber daya buatan.

Baku Mutu Lingkungan Hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsure lingkungan hidup.

Pencemaran Lingkungan Hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan ling-kungan hidup tidak bisa berfungsi lkagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan.

Dampak Lingkungan Hidup adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan.

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.

sumber:
UU.No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

http://lingkunganharmonis.blogspot.com/2009/03/beberapa-istilah-ilmu-lingkungan.html

Batalyon Mayangkara

Mayangkara adalah sebuah nama yang dipergunakan oleh Batalyon “DJAROT” pada perang kemerdekaan. Nama itu bersal dari nama kuda putih milik Lurah Mantup yang diberikan kepada Komandan Batalyon “Djarot Subiyantoro” sebagai teman setia yang senantiasa mendampingi dalam perang kemerdekaan. Dalam cerita pewayangan “Mayangkara” adalah nama aji-aji Anoman. Nama Mayangkara lebih dikenal oleh masyarakat sejak tanggal 9 Desember 1970, setelah diabadikan menjadi sebuah monumen “Kuda Putih Mayangkara” yang merupakan simbol Batalyon Djarot yang tepatnya terletak si sebelah barat pertigaan jalan Desa Mantup Kecamatan Mantup Kabupaten Lamongan.
Pada permulaan perjuangan fisik pemuda-pemuda dari sebagian besar kampung Kedondong dan Surabaya telah tergabung dalam satu kesatuan di bawah pimpinan Djarot Subiantoro mantan tokoh Jibaku Tai, setelah disusun menjadi Batalyon, pasukan ini berada di Gubeng dan bernama Batalyon BPRI, dengan didudukinya kota Surabaya oleh musuh, maka Kesatuan mundur ke sepanjang, Krian dan akhirnya mempertahankan Ds. Perning kec. Jetis Kab. Mojokerto
Kompi Sriwijaya yang anggota-anggotanya berasal dari bekas Heiho di bawah pimpinan Kapten Jansen Rambe bergabung dengan Batalyon Djarot pada tanggal 9 Desember 1945. Kesatuan diresmikan menjadi Batalyon IX dipimpin oleh Mayor Djarot Subiantoro, selanjutnya bergabung ke Resimen XXXII pimpinan Letkol Kristanto kemudian Komandan Batalyon berpindah dan menempati Desa Mantup Kecamatan Mantup.
Nah, sudah tahukan kiasan sejarah nama kesatuan kita? jadi penggunaan nama mayangkara bukan sebuah pemberian nama yang sekadarnya melainkan sebagai pengingat bagi kita terhadap pengorbanan para pahlawan kita, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya dan melanjutkan perjuangannya melalui mengisi kemerdekaan dengan terus belajar dan membaktikan diri kepada bangsa dan negara tercinta.

DIKLATSAR ANGGOTA MUDA KE-IV

Bagaimanapun juga sebuah organisasi memerlukan sebuah kontinuitas agar tetap bisa eksis dengan segala tataran yang telah mereka ingin wujudkan. Dari sinilah untuk membentuk generasi penerus yang bisa meneruskan adat dan kebiasaan SEMPAL dalam mengembangkan rasa persaudaraan berlandaskan kode etik pecinta alam, kesamaan tujuan dalam memelihara kelestarian alam serta dalam rangka pengembangan SDM yang memiliki tanggung jawab dalam segala tindak tanduk baik pribadi, dengan sesama maupun dengan lingkugan maka diadakan sebuah pendidikan dalam bentuk diklatsar SErikat peMuda PecintA ALam ke IV yang nantinya diharapkan memiliki output yang sudah matang dan bisa mengubah dirinya dan sekitarnya menjadi lingkungan yang positif.
Diklatsar ini diadakan mulai dari tanggal 21 Pebruari 2011 berada di dua tempat yaitu Basecamp SEMPAL dan di Area BKPH Mantup-Sambeng, Lamongan.Info lebih jelas tentang Diklatsar ini bisa dilihat di pamflet (untuk melihatnya tinggal klik pada gambar)

Latgap Investigasi Goa Angin

LAMONGAN - Sebanyak 60 anggota pecinta alam (PA) se-Lamongan kemarin (26/7) menggelar latihan gabungan. Kegiatan yang digelar serikat pemuda pecinta alam Lamongan (Sempal) itu mengambil lokasi di kawasan Gua Angin Desa Kemantren Kecamatan Paciran. ''Kawasan Gua Angin dipilih karena latgab ini materinya fokus pada belajar investigasi lingkungan gua dan pantai,'' kata koordinator Latgab, Achmad Yusuf kepada Radar Bojonegoro, kemarin.
Menurut dia, kegiatan Latgab ini diikuti 60 peserta dari berbagai organisasi PA. Diantaranya, Smasapala SMAN 1 Lamongan, Smadapala SMAN 2 Lamongan, Smagapala SMAN 3 Lamongan, Skamuspala SMK Muhammadiyah 1 Lamongan, Smundibisa SMAN 1 Sukodadi, PA. Indrakila SMAN 1 Babat, Mapaladewe Pemuda Kebonsari, FoS, Divisi Konservasi Lingkungan Serikat Pemuda Pencinta Alam Lamongan, dan Freelance.
Yusuf mengungkapkan, ada beberapa instruktur yang memandu kegiatan tersebut. Setiap peserta dibekali toolbox investigasi, kode etik penelusuran gua, tata tertib latgab, activity schedule dan. Pada toolbox investigasi misalnya, peserta bisa belajar tentang tata ekologis, tata ekonomi, dan tata sosial masyarakat sekitar. ''Ada beberapa data yang menarik dari hasil latgab ini,'' ungkapnya.
Diantaranya, Gua Angin merupakan jenis gua yang unik karena keberadaannya di bawah permukaan tanah (vertival cave) dengan jenis karst (batuan gamping) yang berfungsi sebagai penampung air paling baik. Stalagtit dan stalagmit-nya yang tersebar di kedalaman sekitar 15 meter dengan luas area 30 meter persegi menambah keindahan gua itu. ''Banyak pengunjung yang seenaknya memegang stalagtit dan stalagmit tersebut, bahkan memotongnya,'' kata dia.
Selain itu, tuturnya, aktivitas industri di sekitarnya seperti Lamongan Integrated Shorebase (LIS) dan PT Dok juga ikut berperan merusaknya. ''Padahal, stalagtit dan stalagmit ini untuk bisa tumbuh 2 milimeter dibutuhkan waktu 100 tahun lamanya,'' tutur Yusuf. (feb)

post oleh:  Koran Radar Bojonegoro

Etika Penelusuran Alam Tanpa Jejak (Leave No Trace)


Awal lahirnya program tersebut muncul dari ide para pengelola taman nasional di Montana, Wyoming dan Utah, Amerika serikat, diakibatkan pengrusakan alam oleh orang-orang yang "mencintai" alam. Melihat keadaan lingkungan yang kritis di taman nasional tersebut, mereka menawarkan dua alternatif yaitu; pertama, menutup taman nasional dari para pengunjungnya dan atau kedua, mengajarkan para pecinta kegiatan alam terbuka satu etika dan tehnik-tehnik yang bertanggung jawab untuk memelihara kelestarian dan keindahan alam yang mereka kunjungi dan nikmati.

Sekolah Pendidikan Kepemimpinan Alam Terbuka (National Outdoors Leadership School disingkat NOLS) secara resmi menjadikan Leave No Trace sebagai program etika para petualang alam tingkat nasional. Dan pada tahun 1994 Leave No Trace Incorporation terlahir dengan tujuan memperluas ruang lingkup dan jangkauan program yang mereka kembangkan.

Satu prinsip paling utama dalam aplikasi sederhana petualangan di alam terbuka yang harus sering dipraktekkan yaitu "Tidak membuang sampah sembarangan".


ETIKA DI ALAM BEBAS

JANGAN MENGAMBIL KECUALI GAMBAR
JANGAN MENINGGALKAN KECUALI JEJAK
JANGAN MEMBUNUH KECUALI WAKTU

7 Prinsip Dasar Leave No Trace:
[ Persiapan dan Perencanaan ]
[ Berkemah dan berjalan di tempat dan alur yang sudah umum digunakan ]
[ Buang air pada tempat dan kondisi yang terbaik ]
[ Jangan merusak bagian alam dan lingkungan yang kamu temui ]
[ Minimumkan impak dari api unggun ]
[ Jaga kelestarian dan jangan mengganggu tanaman dan binatang liar ]
[ Saling menghargai sesama petualang alam bebas ]

KODE ETIK PENCINTA ALAM INDONESIA

“PECINTA ALAM INDONESIA SADAR BAHWA ALAM BESERTA ISINYA ADALAH  CIPTAAN TUHAN YANG MAHA ESA“
“PECINTA ALAM INDONESIA SEBAGAI BAGIAN DARI MASYARAKAT INDONESIA SADAR AKAN TANGGUNG JAWAB KAMI KEPADA TUHAN, BANGSA DAN TANAH AIR”
”PECINTA ALAM INDONESIA SADAR BAHWA PECINTA ALAM ADALAH SEBAGAI MAKHLUK YANG MENCINTAI ALAM SEBAGAI ANUGERAH TUHAN YANG MAHA ESA”


Sesuai dengan hakekat di atas kami dengan kesadaran menyatakan :
  1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya.
  3. Mengabdi kepada Bangsa dan Tanah Air.
  4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya.
  5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam.
  6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah air.
  7. Selesai.


Disyahkan dalam Forum:
Gladian Nasional ke - IV di Ujung Pandang
Pada tanggal 29 Januari 1974
Pukul 01.00 WITA

video

Upload Basecamp

Video DOkumentasi Napak Tilas Bumi Mayangkara
Newer Posts
© Copyright Sempal Lamongan Published.. Blogger Templates
Back To Top